Bersahabat Dengan Phobia

im-afraid

Siapa saja yang punya phobia/ketakutan terhadap sesuatu? kamu?.

Entah itu phobia apa aja, pasti ada…mo itu yang parah banget atau sekedar ketakutan biasa atau hanya merasa tidak nyaman atau apapunlah namanya, pasti ada. Hayo ngaku!

Ada yang takut ama laba-laba (Arachnophobia)….ada yang takut menyeberang jalan (Dromophobia) atau ada yang takut naik  pesawat (Aerophobia), apa mungkin kalian termasuk yang takut ama orang botak (Peladophobia) *bersiap ditimpukin org botak sedunia*.  Tapi sebenarnya kalo cuma sekedar takut doang sih belum tentu phobia. Ya misalnya takut ama kecoa, takut ama kucing, takut ama cicak, takut ama pacar/mertua…itu bukan phobia tapi “Jijay/Jijik”.

Di postingan ini saya mau curhat soal phobia yang saya ‘derita’. Ya mau sedikit curhat-curhat nga penting gitu. Dibaca silahkan nga dibaca yo tega kalian. *lho kok maksa*.

Entah sudah banyak yang tau atau nga.  Tapi ya itu nga penting lha.  Diriku dan phobia ketinggian yang bahasa keren penyakit satu ini (acrophobia)*mudah-mudah nga salah*, dimana ini sudah lama ‘nempel’ melengkapi ketidaksempurnaan saya.

Sejak  kapan,Na?

Itu dah lama banget…kalau nga salah dari saya masih kecil, lupa umur berapa. Gara-gara abis jatuh dari pohon mangga yang ada di lapangan depan rumah. Setelah itu setiap kali berada di tempat yang tinggi….jantung saya langsung berdetak cepat dengan ritme nga normal, keringat dingin, mual, pucat pasi, nyali mendadak langsung ciut dan sesak napas. Serius…nga boong. Entah lha kenapa sampai segitunya banget.

Karena phobia itulah saya jadi orang yang nga pernah mau berada di tempat-tempat tinggi tanpa tujuan yang jelas. Kalaupun harus naik dan ada di tempat yang tinggi pasti butuh tekad baja dan yang pasti nga nyaman banget alias terpaksa banget.

Nah.. ceritanya nih sekarang semenjak berada di Jakarta dan harus beradaptasi dengan menjadi pejalan kaki yang mengombinasikan transportasi umum seperti busway, angkot, kopaja, dl, sebagai sarana berpergian. Karena tidak adanya pilihan lain maka mengharuskan saya untuk berjalan kaki melewati jembatan penyeberangan untuk sampai ke halte tujuan. Dan sudah bisa ditebak saudara-saudara…jembatan penyeberangan dimana-mana itu pastinya harus TINGGI…TINGGI dan TINGGI, untuk sampai ke atas kita naik dulu pakai tangga yang juga TINGGI. DEM!!! *sesak napas..keringet dingin*

Yaaaa…apa yang terjadi,Na?

Yach..demi pencipta langit dan bumi, saya harus melewatinya.

Saat harus melewati jembatan penyeberangan untuk sampai ke halte busway…ada Ritual ‘Wajib’ yang saya lakukan, saya harus berdiam diri dulu dibawah tangga sebelum naik (5-7 menit), menarik napas panjang..menenangkan hati..nyalain ipod, muter lagu-lagu gedubrakan dengan volume kencang..membulatkan tekad kalau saya ‘PASTI BISA’…dan akhirnya beranjak menaiki tangga dengan lambat namun pasti deg-degannya. Saat sudah diatas…jangan harap saya akan jalan dipinggir, saya pasti akan jalan ditengah-tengah jembatan tanpa mau beranjak kalau ada yang menghalangi di depan saya. *mohon maaf…harap maklum*. Keringat dingin mulai mengucur…separuh perjalanan napas sesak dan mual karena harus melihat ketinggian dari kiri kanan jembatan, muka dah pucat…nyampai di tangga turun…kepala saya dah pening, tapi perjalanan belum berakhir saya masih harus berusaha menuruni tangga yang TINGGI dengan berpegangan erat pada pinggiran tangga. Kala dah nyampe dibawah..rasa lega selega-leganya langsung buat saya tenang dan bisa bernapas normal lagi. Untungnya saya tidak sampai harus mempermalukan diri sendiri dengan pola yang ‘aneh bin ajaib’ cuma karena ketakutan.

Sekarang gimana,Na?

Gilaaa…ini harus saya alami selama beberapa waktu sampai saya terbiasa dengan jembatan penyeberangan itu. Sekarang ini untungnya saya sudah terbiasa dengan jembatan penyeberangan di Karet dan yang di Bunderan HI..soalnya ini dah rutin saya lewati, kemudian di beberapa jembatan penyeberangan di Koridor 1 Busway Blok M- Kota. Saya suka sekali kalau berada di jembatan penyeberangan yang agak luas dan samping kiri kanannya ada tanaman hias/bunga seperti yang ada di Karet, karena bisa memanipulasi kesan tinggi dan tidak terlihat seram. Untuk yang lainnya dan yang baru akan saya lewati…saya masih harus melakukan dan mengulang ritual ‘wajib’ sebelum naik dan adu keberanian di atas ketinggian itu.

Pernah juga ada seorang teman yang tidak tahu kalau saya phobia dengan ketinggian..tiba-tiba ngajak saya naik ke sebuah gua dengan tangga yang cukup curam…rasanya tuch dah pengen nolak,cuma nga enak..akhirnya sok dikuatin aja, dan emang dasar ga bisa..sampai di pertengahan saya sesak napas dan wajah berubah pucat pasi..putih kayak mayat..teman saya itu langsung shock dan marah karena saya tidak ngasih tau dia kalau saya phobia dengan ketinggian. *berasa pengen nabok aja*

Ina dan phobia ketinggian…ya penyakit yang sampai sekarang belum sepenuhnya bisa hilang dan sering bikin suasana jadi nga nyaman. Tidak ada ceritanya Ina mau naik flying fox kalau sedang outbond, atau bungee jumping..wall clambing..dan segala sesuatu yang harus berada di ketinggian, karena biar dibayar berapapun entar-entar dulu ya. Tapi kalau naik gunung (hiking)…boleh lho…asal jangan yang extreme aja ketinggiannya.

Hahaha….kalian mungkin tidak menyangka dengan tampang dan pembawaan setomboy ini saya ternyata langsung menciut kalau sudah dihadapkan pada ketinggian, Nasib…nasib! *tepok jidat*. Tapi jangan pernah berpikir untuk menguji sendiri dengan alasan penasaran pengen liat saya ketakutan, karena itu artinya kalian mengibarkan bendera perang. Hayoo..dibuang jauh-jauh pikiran laknat kalian itu.

eh…iya hampir lupa, numpang teriak bentaran…

SAYA PENGEN SEMBUH!!!

*lega*

Kalau kalian, apa punya ketakutan atau phobia juga terhadap sesuatu? Mudah-mudahan nga separah phobia saya dan bisa cepat ‘bersahabat’ (cepat sembuh) ya.