Ini Sampah Basah atau Kering?

Tadi Pagi abis baca salah satu  koran lokal Makassar. Di salah satu pojokan beritanya ada satu tulisan yang cukup menarik perhatian saya yang sebenarnya termasuk makhluk hidup yang sangat jarang baca koran. (soalnya malas karena setiap baca koran tangan saya pasti kotor karena tinta hitam koran-koran itu).Â

Judul tulisan itu : Perilaku Warga Pinggiran Makassar ` 93 % Warga Belum Urai Sampah Basah dan Kering`.Â

Yang cukup menarik perhatian saya. Dalam tulisan ini dibahas tentang bagaimana kondisi real yang terjadi di Masyarakat dan pemerintahan kota bahwa sebenarnya pengelolahan sampah, pelayanan pemerintah untuk pengumpulan dan pembuangan sampah masih jauh dari kata memadai atau lebih tepatnya masih sangat kurang di perhatikan apalagi  di masyarakat sendiri masih banyak yang doyan buang sampah sembarangan.

Sementara itu pengelolaan persampahan di kawasan pemukiman kumuh masih menjadi masalah yang pelik.  Seperti salah satu contoh yang sering saya lihat di pemukiman kumuh Ballaparrang tempat dimana kurcaci-kurcaci cilikku banyak bertempat tinggal di daerah itu. Sampah yang mengunung jadi pemandangan di halaman rumah, bau busuk yang menyenggat, lalat-lalat yang bisa berjumlah ribuan hilir mudik bebas kesana kemari bahkan sampai hinggap di makanan mereka sudah menjadi hal yang biasa dan mereka semuanya kebal melihat itu tanpa ada sedikitpun rasa jijik.Â

sampah

*sampah di salah satu sudut pemukinan kumuh ballaparang*Â

Foto diatas merupakan pemandangan biasa di lingkungan kumuh Ballaparang. Entah sampai kapan pemandangan ini terus bertahan. Bertumpuk…makin bertumpuk…mengunung tanpa bisa di bedakan lagi mana sampah basah atau kering.  Karena hampir keseluruhan warga disana tidak pernah tahu betapa pentingnya memisahkan sampah berdasarkan 2 jenis itu. Sehingga bisa mudah pengelolaannya. Kebanyakan hanya memikirkan bahwa sampah tidak boleh bertumpuk dan membusuk di dalam rumah, jadi bagi rumah yang tidak memiliki tempat penampungan sampah dan tidak terlayani truk pengangkut sampah, tanah lapang, saluran air, kanal, sungai, maupun laut menjadi pilihan utama untuk membuang sampah. Miris banget ya!.Â

Masih dalam tulisan yang sama di koran pagi ini, menurut survey dari Care Indonesia dan Mitra LSM. Terkumpul data  bahwa :Â

  • 34 %  Keluarga di pinggiran Makassar tidak membayar iuran sampah.Â
  • 35 % Masih membuang sampah sembarangan
  • 63 % Mengaku memiliki wadah penampungan sampah.Â
  • 93 % Belum memisahkan sampah basah dan kering.Â
  • 56 % Warga yang tinggal jauh dari jalan raya dan tidak terjangkau truk sampah masih membuang sampah disembarang tempat.Â

Well… 93 % dari 2.000 responden. di hitung-hitung..jah…cuma 7 % yang tahu dan memisahkan sampah menurut 2 jenisnya. Apa yang terjadi saudara-saudara?.Â

Pemerintah kota sebaiknya segera memperhatikan kondisi lingkungan di wilayah kumuh, penyebaran informasi tentang bagaimana pengelolaan  sampah rumah tangga. Kalau tidak…..ah tidak bisa dibayangkan kondisi kota Makassar beberapa tahun kedepan.

Jangan sampai saya harus mengungsi ke Malay dan harus menikah sama salah satu anggota kerajaan disana, cuma karena Makassar penuh sampah. *hayalan norak*

Tambahan dikit gara-gara diingatkan ama Kittin, diriku dah melakukan apa saja? (silahkan dicontoh kalau memang anda waras)

  • Setiap jalan kemana-mana yang tidak ada tempat sampahnya. Saya lebih memilih menyimpan sampah yang mau saya buang ke dalam tas atau saku sebelum akhirnya dibuang ke tempat sampah. Alhasil kadang suka lupa dan akhirnya tasku malah lebih banyak sampahnya.Â
  • Sekarang (dah mau setahun) kalau belanja ke supermarket atau minimarket…saya milih bawa ECOBAG sendiri. Jadi nga usah bawa pulang plastik buat belanjaan lagi.
  • Di rumah ada 2 tempat sampah buat sampah basah dan sampah kering. Biasanya sampah basah kebanyakan dari sampah dapur si Mama.Â
  • Kurcaci-kurcaci yang biasa datang ke centre tempat saya kerja, pasti saya marahin kalau buang sampah sembarangan. Ibu-ibunya juga sih pernah kena semprot ama saya karena ngajarin anaknya buang sampah sembarangan. *kasihan nasib ibu itu*
  • Dan kalau nemu orang yang buang sampah sembarangan di jalan. Sampahnya kadang saya timpukin balik ke dia, paling doyan nimpuk kalau sampahnya itu kaleng kosong softdrink.  *sadis + hiperbola*.Â
  • ehm…….terakhir saya posting ini deh..biar semuanya pada ikutan sadar dan waras kayak saya. Sayangi lingkungan sebagian dari iman. :D *bukan imam*Â

DONE!