Lelaki Cilik

Ade a.ka. Rusdin

Bekerja di sebuah NGO (Non-govermental organization) yang berhubungan langsung dengan anak-anak istimewa yang setiap harinya harus berjuang hidup di jalanan. Membuat saya melihat banyak hal tentang hidup dari mata kecil mereka. Terlebih dari kisahku dan `Lelaki cilik` ini.

Matahari mulai menampakkan serabut sinar hangatnya di ufuk timur sana. Rutinitas pagi pun tampak riuh dalam sebuah rumah sederhana.Â

Wanita baya yang dari kecil aku kenal sebagai sosok ibu yang melahirkanku telah sibuk berkutat di pojok kekuasaannya dan merupakan pojok yang jarang  terjamah olehku…sudah pasti tempat itu bernama dapur. Beliau sibuk menyiapkan sarapan untuk seisi rumah yang cuma berpenghuni 3 makhluk hidup. Sementara sang kepala keluarga ternyata sedang sibuk membersihkan sepeda ontel kesayangannya di teras. Dan diriku sendiri larut dalam lamunan memandangi rutinitas pagi drama kehidupan.Â

Pagi beranjak perlahan, saatnya memulai aktivitas hari ini dengan berangkat ke tempat kerja. Ya kembali bergelut dengan rutinitas untuk mempertanggungjawabkan kehidupan.Â

Hari Selasa, mungkin tak ada bedanya dengan hari Selasa lainnya. Hanya saja ada sesuatu yang selalu jadi special di kantor  jika berjumpa dengan hari ini dan 2 hari lainnya yaitu Kamis dan Jumat. Ah..ada kejadian seru apa ya hari ini?.  Suatu perasaan tak sabar pun mulai menghinggapi hati ini.Â

”Siang Kak….!”

Tepat di hadapanku berdiri seorang anak lelaki. Matanya menyiratkan kejenakaan khas anak – anak tapi sarat makna hidup, kulitnya gelap terbakar matahari, tingginya persis sedadaku.Â

”Kak…!” sekali lagi Ia menyapaku.Â

” Oh…Hai” Jawabku tercengang. Aku tidak menyadari kalau sudah ada anak yang datang awal untuk mendapatkan waktu bermain  lebih banyak di centre yang terletak halaman samping kantor.

”Kakak, bisa membaca?” Suara khas anak lelaki yang baru beranjak remaja. Kuperkirakan ia berusia 11 tahun.  Ia bertanya sambil kedua matanya melihat ke buku yang sedang aku pegang.Â

Aku menganggukan kepala. ”Tentu, kakak bisa membaca!”

”Wah..pasti kakak senang sekali ya bisa membaca, betulkan kak?”

Agak  heran aku memandang anak itu. Kenapa ia bertanya hal itu?.Â

Sekali lagi aku menganggukan kepala.Â

 ”Nama kamu siapa? ” karena baru sekali itu aku melihatnya di centre ini.Â

”Ade Kak, Kakak sendiri siapa namanya?”Â

Tanyanya dengan lugu sambil mengulurkan tangan kanannya sebagai tanda mengajakku bersalaman.Â

Ku sambut uluran bersahabatnya dan menjabat erat tangan mungil itu.Â

”Hai Ade,  Panggil saja saya Kak Ina.” Serabut seringaian jenaka mengembang di wajahnya.Â

”Kamu bisa membaca?” tanya ku sambil berjalan ke sebuah bangku taman kecil.Â

Ade mengikuti aku.Â

Ade menatapku langsung dengan matanya yang besar.Â

”Aku tidak bisa membaca kak!”.Â

”Jadi kamu tidak bisa membaca? Kamu masih punya orang tua, bukan? Kenapa kamu tidak sekolah?

Ade mengangkat bahunya yang kurus. ”Kata Ayah, ia tidak sanggup membiayai uang sekolahku. Mungkin nanti jika aku sudah besar nanti dan mempunyai uang banyak dari hasil jual koran aku akan masuk sekolah.  Tapi sebelum itu… bagaimana kalau kakak mengajarkanku membaca?Â

Dengan sopan anak itu duduk di depanku. Ia menunggu.Â

”Hm…Aku menyukai semangatmu,” kataku sambil tersenyum.Â

Anak ini memang bersemangat sekali untuk belajar. Ku ambil beberapa buku dan kuletakkan di hadapannya.Â

”Mari kita mulai!”.Â

Sesudah itu sebagai awalan aku mengenalkannya ke beberapa huruf  alfabet sambil terus diucapkan berulang ulang.Â

Ade hidup di lingkungan kumuh yang terletak di tengah kota besar ini, pergaulan antar tetangga tidak terlalu sehat, walaupun masing – masing sibuk memikirkan pencarian nafkah sehari-hari. Tapi kesadaran orang tua untuk mencerdaskan anaknya sering terhalang masalah ekonomi yang pas – pasan. Pas ada uang ya makan, pas tidak ada uang ya tidak makan.Â

”Bisa di mengerti?” tanyaku.Â

Ade mengaruk garuk kepalanya. ”Ya Terima kasih” Ia memperhatikan bagaimana aku mengajarkannya mengenal huruf yang termasuk ilmu baru baginya.Â

”Kakak tentu senang ya bisa membaca dan mengetahui apa saja?”
” Begitulah…”Â

Ade meletakkan kedua sikunya di paha dan mukannya ditahan dengan kedua telapak tangan.
” Kakak kebalikan dari ayah dan ibuku. Ayah sering mengatakan bahwa kita lebih baik cari uang yang banyak daripada menghabiskan uang untuk sekolah.  Repot dan memusingkan katanya”.Â

Saat berbicara demikian Ade seolah-olah berubah menjadi lelaki `dewasa` cilik bagiku.Â
”Sebenarnya aku ingin lekas besar.” katanya sambil memejamkan mata.Â
”Kalau aku sudah besar, aku bisa punya uang sendiri, aku bisa melakukan semua yang aku mau tanpa harus dimarahi oleh siapapun, meskipun…”

”Kenapa Ade?”

Aku terdiam menanti jawabanÂ

Ade berdiri. ”Terima kasih, Kak”.
Keraguan itu nampak jelas, seolah ia ingin mengatakan sesuatu. Aku sudah bisa menerka apa yang hendak dikatakan dan sambil mengelus kepalanya aku berkata
”Kalau hari Kamis ini kakak mau belajar bersama kamu lagi, kamu mau datang lagi tidak?”Â

Ia duduk kembali. ” Kakak, saya benar boleh datang lagi meskipun saya tidak pandai membaca?”Â

”Boleh Kakak?” matanya seolah meminta dengan sayu menunggu jawabanku.Â

Sepertinya hatiku hancur luluh dan tanpa berpikir lebih panjang aku berdiri dan mendekapnya. ” Boleh Ade dengan senang hati. Kapan saja kau boleh ke mari”.Â

Ia mendekapku keras – keras.
”Terima kasih Kak. Aku akan ceritakan ini pada Ibu” Â
Ia berlari melintasi halaman belakang dan keluar melalui pintu kecil di samping kantor.Â

————————————————————————————————————————————————–

Agama sejati adalah hidup yang sesungguhnya, hidup dengan seluruh jiwa seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang.
- Einstein -Â