Pukul 08.00 Wita, beberapa anak AM sdh berkumpul di lokasi acara. Ada Eko, Teh’ Tiza, Dhas, Nanie dan yang lainnya(aku datang na telat krn masih urus masalah registrasi peserta). Jam 08.35, aku nonggol dengan tergopoh- gopoh sambil nenteng belanjaan ole -ole buat Mas Budi Putra yg mo langsung balik ke Jakarta siang hari itu juga. Ternyata sampe ke tempat acara udah ada beberapa peserta yang datang. Langsung sibuk dech….urusin masalah registrasi.Ternyata usut punya usut yg hadir sekitar kurang lebih 200 org. kl ng salah itung

(baca trus dong)

Kenal dan bergabung di Komunitas Blogger Makassar Angingmammiri.org beberapa bulan yang lalu, tapi ternyata dah merasa betah dan dah merasa menjadi satu dengan segenap insan yang ada di dalamnya. Walaupun tergolong anggota baru tapi tidak menyurutkan langkah untuk ikut ambil bagian dalam setiap acara AM.
(Ada apa sih dgn Blogger AM ?)

Duapuluhempat tahun sudah waktu yang kubiarkan hanyut.
Hidup dalam kenyataan…
Hidup dalam mimpi…
Hidup dalam bayang- bayang semu yang tak nyata.
Hanyut dan terbuai.
Tak ada pesta gemerlap.
Tak ada Kue yang enak serta lilin yang bernyala-nyala.
Hanya permenungan akan hidup yang mulai berkurang waktunya di dunia ini.
Serta tak lupa ucapan syukur dan terima kasih kepada sang penciptaku.
Terima kasih untuk kedua orang tuaku tercinta.
Sahabat sahabatku..yang dekat maupun jauh.
Dan Kalian semua yang membaca tulisan ini.
Karena kalian semua lha aku menjadi berarti di dunia ini.
Membuat hidupku jadi berwarna.
Terima kasih untuk doa dan supportnya selama ini.
I lUV U ALL.
dan terakhir….
Selamat Ulang Tahun untukku. Wish all the best in my live.
ingat dah tua jgn kebanyakan pola
Dalam perlawanannya Indonesia melawan Belanda di Surabaya yang berlanjut selama tiga minggu. Hari ini kemudian di peringati sebagai Hari Pahlawan.
Dewasa ini, memperingati Hari Pahlawan dengan semangat baru, cara baru, pandangan baru, adalah penting. Sebab, kita sama-sama menyaksikan keagungan jiwa revolusioner Hari Pahlawan yang dicetuskan oleh Bung Karno telah dibikin mandul atau kerdil oleh orang – orang yang mengaku sebagai anak bangsa ini. Pastilah para pahlawan kita dari berbagai angkatan, berbagai suku, berbagai agama dan aliran politik, menangis sedih dalam makam mereka, melihat keadaan bangsa dan negara kita yang seperti sekarang ini. Bukanlah bangsa dan negara yang macam sekarang ini yang mereka cita-citakan ketika mereka bersedia mengorbankan diri dalam berbagai medan perjuangan, termasuk dalam pertempuran-pertempuran di seluruh tanahair.
Banyak tokoh-tokoh politik, pemuka masyarakat dan pejabat yang benar-benar sudah menjadi penjahat dan pengkhianat rakyat. Banyak di antara mereka sudah tidak peduli lagi terhadap kepentingan publik. Mereka menghalalkan segala cara untuk mencuri milik negara dan rakyat. Mereka tidak segan-segan menggunakan dalil-dalil dan kedok agama untuk menimbulkan perpecahan, dan menyebar benih-benih kerusuhan.
Pada Hari Pahlawan ini kita harus sama-sama mengembalikan Bangsa Indonesia kepada peran (dan pesannya) yang semestinya sebagai bentuk kita menghargai warisan dari para pejuang kita. Ini adalah tugas utama bangsa kita, termasuk dari kalangan pendidikan dan sejarawan. Generasi muda harus dididik untuk menghayati benar-benar semangat pengabdian kepada rakyat dan pengorbanan diri demi kepentingan nusa dan bangsa. Kalangan sejarawan (dan pendidikan) perlu sekali meninjau kembali buku-buku sejarah dalam sekolah-sekolah, sehingga generasi muda kita mengenal sejarah bangsa secara benar (ingat : pemalsuan yang memblingerkan : serangan 1 Maret dan pendudukan 6 jam di Jogya oleh Suharto dan pemalsuan-pemalsuan sejarah lainnya).
Ingat kata- kata bijak : Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Bangsa Indonesia pernah dipandang besar oleh bangsa lain di dunia, terutama oleh rakyat-rakyat di Asia, Afrika dan Amerika Latin, berkat perjuangannya melawan kolonialisme dan imperialisme ( mohon dicatat antara lain : revolusi 45, Konferensi Bandung, Konferensi Pengarang Asia-Afrika, Konferensi Wartawan Asia-Afrika, Ganefo, Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Aaing).
Sekarang ini, negeri kita Indonesia sedang terpuruk citranya di dunia. Sekali lagi, bukan negeri yang macam beginilah yang dicita-citakan oleh ratusan ribu (bahkan mungkin jutaan) pahlawan kita, yang dalam barisan panjang dan berliku-liku telah berbondong-bondong bersedia mengorbankan diri, demi kita semua dan demi anak-cucu kita.
Dengan tekad bersama untuk menjunjung tinggi-tinggi semangat revolusioner dalam mengabdi kepada kepentingan rakyat, marilah kita sambut peringatan Hari Pahlawan !